Paul Davis Ryan, Ketua House of Representatives, di Washington

”mendiskon” ambisi: mereka lebih membidik negara-negara bagian tertentu ketimbang target berskala nasional. Mike Murphy, yang membantu mantan Gubernur Florida Jeb Bush dalam pertarungan untuk menjadi calon dari Partai Republik kali ini, termasuk di antaranya. Dia membayangkan seorang kandidat independen untuk melakukan apa yang menurut dia ”misi terhormat” di Colorado, New Hampshire, dan Ohio.

Ketiga negara bagian ini merupakan medan pertempuran penting dengan peraturan yang relatif longgar. Murphy melihat pencalonan kandidat anti-Trump di beberapa negara yang memiliki dukungan berimbang antara Partai Demokrat dan Partai Republik sebagai langkah sangat menarik. ”Anda dapat menolak pencalonan Trump… dengan memberikan alternatif lain kepada pemilih Republiken yang membenci Hillary Clinton dan tak bisa melanggar batas moral untuk memilih Trump,” ujarnya. Tujuan dari langkah itu adalah mencegah Clinton ataupun Trump meraup suara electoral college, yang cukup untuk disahkan sebagai presiden.

Jika mereka gagal mencapai jumlah suara untuk itu, berdasarkan Amendemen ke-12 Konstitusi Amerika, penetapan pemenang akan diserahkan kepada House of Representatives. Skenario ini dimainkan pada 1824, ketika Andrew Jackson akhirnya dikalahkan oleh John Quincy Adams. Yang jadi masalah—mengingat terjalnya jalan menuju ke sana—adalah siapa yang mau mendanai. Dan Senor, bekas penasihat Romney dan orang kepercayaan Ryan, secara tak resmi telah memberikan gambaran kepada para donor penting Partai Republik yang menolak Trump.

Menurut sumber-sumber yang ikut terlibat, para pemilik uang itu setuju ”berinvestasi” jika ada kandidat yang tepat. Spencer Zwick, kepala keuangan Romney pada 2012, menyatakan yakin bakal tak ada cukup uang kalau Never Trump hanya merupakan sebuah opsi dan jelas tak ada harapan menang. ”Jika ada alternatif nyata, ini mengubah dinamika. Tapi siapa yang akan melakukannya?” katanya. Mungkinkah sesungguhnya Ryan masih membuka opsi untuk itu?

Website : kota-bunga.net

Kuasa Masa Donald Trump Lebih Baik

Belakangan, Ryan malah aktif beredar di muka publik. Ada yang menduga dia berupaya mengatrol profilnya agar dalam konvensi pada Juni nanti ada yang mendorongnya sebagai kompetitor atau alternatif Trump. Tapi calon wakil presiden dari Partai Republik pada pemilihan 2012 ini menepis spekulasi itu; dia menegaskan tak akan menerima bila partai mencalonkannya. Ryan menyatakan keprihatinannya bahwa Partai Republik bakal ”tak punya teladan yang menjunjung standar-standar kita”. ”Kaum konservatif ingin tahu apakah dia punya nilai-nilai yang sama dengan kita?” katanya.

”Ini adalah pertanyaanpertanyaan yang kaum konservatif ingin ada jawaban, termasuk saya sendiri.” Menurut Russell Berman, yang menulis di The Atlantic pada awal bulan ini, nominasi Trump bakal mengancam visi Ryan untuk mewujudkan agenda kaum konservatif di Washington. Dalam beberapa kesempatan, Trump memang mengkritik proposal Ryan untuk membongkar lagi program jaminan kesehatan Medicare dan Medicaid serta menciutkan pemerintahan yang dianggapnya sudah terlalu gemuk.

Dia juga berseberangan dengan Ryan dalam isu imigrasi dan kebijakan perdagangan. Mengingat perbedaan yang tajam dalam isu-isu itu, ada kalangan yang sangsi akan kesungguhan atau peluang keduanya bisa bersepakat. Bagi sebagian kaum Republiken, penolakan terhadap Trump harus diwujudkan dalam gerakan untuk mengganjal laju kemenangan Trump. Mereka berhimpun dan menamai gerakan ini ”Never Trump”. Dalam beberapa waktu belakangan, mereka kian gencar bermanuver, dengan tujuan memunculkan tokoh yang bisa menjadi calon independen. Jumlah mereka sebenarnya tak banyak.

Tapi mereka terdiri atas para konsultan veteran dan anggota intelektual konservatif. Di antara mereka ada Mitt Romney, calon Partai Republik untuk pemilihan presiden 2012; William Kristol dan Erick Erickson, komentator politik; serta Mike Murphy, Stuart Stevens, dan Rick Wilson, para ahli strategi. Menurut laporan The Washington Post, selain diam-diam membiayai penyelenggaraan jajak pendapat, mereka menggalang dana dan membujuk tokoh-tokoh yang berpotensi menjadi penantang. Sementara sebelumnya hanya berupa upaya sporadis, langkah-langkah ini menjadi lebih intensif dalam sepuluh hari setelah Trump secara efektif menutup peluang elite Partai Republik melirik kandidat lain.

Mereka paham waktu yang tersedia terlalu singkat, hanya beberapa pekan. Mereka juga tahu peluang keberhasilan dari apa yang mereka lakukan teramat kecil. Tapi mereka tak peduli; mereka lebih tak bisa menerima kemungkinan bahwa Trump bakal menjadi pemegang kekuasaan tertinggi. Dalam keputusasaan seperti ini, mereka bisa melakukan apa saja. Tak mengherankan bila di antara tokoh-tokoh yang mereka incar juga termasuk selebritas televisi.