Kuasa Masa Donald Trump Lebih Baik

Kuasa Masa Donald Trump Lebih Baik

Belakangan, Ryan malah aktif beredar di muka publik. Ada yang menduga dia berupaya mengatrol profilnya agar dalam konvensi pada Juni nanti ada yang mendorongnya sebagai kompetitor atau alternatif Trump. Tapi calon wakil presiden dari Partai Republik pada pemilihan 2012 ini menepis spekulasi itu; dia menegaskan tak akan menerima bila partai mencalonkannya. Ryan menyatakan keprihatinannya bahwa Partai Republik bakal ”tak punya teladan yang menjunjung standar-standar kita”. ”Kaum konservatif ingin tahu apakah dia punya nilai-nilai yang sama dengan kita?” katanya.

”Ini adalah pertanyaanpertanyaan yang kaum konservatif ingin ada jawaban, termasuk saya sendiri.” Menurut Russell Berman, yang menulis di The Atlantic pada awal bulan ini, nominasi Trump bakal mengancam visi Ryan untuk mewujudkan agenda kaum konservatif di Washington. Dalam beberapa kesempatan, Trump memang mengkritik proposal Ryan untuk membongkar lagi program jaminan kesehatan Medicare dan Medicaid serta menciutkan pemerintahan yang dianggapnya sudah terlalu gemuk.

Dia juga berseberangan dengan Ryan dalam isu imigrasi dan kebijakan perdagangan. Mengingat perbedaan yang tajam dalam isu-isu itu, ada kalangan yang sangsi akan kesungguhan atau peluang keduanya bisa bersepakat. Bagi sebagian kaum Republiken, penolakan terhadap Trump harus diwujudkan dalam gerakan untuk mengganjal laju kemenangan Trump. Mereka berhimpun dan menamai gerakan ini ”Never Trump”. Dalam beberapa waktu belakangan, mereka kian gencar bermanuver, dengan tujuan memunculkan tokoh yang bisa menjadi calon independen. Jumlah mereka sebenarnya tak banyak.

Tapi mereka terdiri atas para konsultan veteran dan anggota intelektual konservatif. Di antara mereka ada Mitt Romney, calon Partai Republik untuk pemilihan presiden 2012; William Kristol dan Erick Erickson, komentator politik; serta Mike Murphy, Stuart Stevens, dan Rick Wilson, para ahli strategi. Menurut laporan The Washington Post, selain diam-diam membiayai penyelenggaraan jajak pendapat, mereka menggalang dana dan membujuk tokoh-tokoh yang berpotensi menjadi penantang. Sementara sebelumnya hanya berupa upaya sporadis, langkah-langkah ini menjadi lebih intensif dalam sepuluh hari setelah Trump secara efektif menutup peluang elite Partai Republik melirik kandidat lain.

Mereka paham waktu yang tersedia terlalu singkat, hanya beberapa pekan. Mereka juga tahu peluang keberhasilan dari apa yang mereka lakukan teramat kecil. Tapi mereka tak peduli; mereka lebih tak bisa menerima kemungkinan bahwa Trump bakal menjadi pemegang kekuasaan tertinggi. Dalam keputusasaan seperti ini, mereka bisa melakukan apa saja. Tak mengherankan bila di antara tokoh-tokoh yang mereka incar juga termasuk selebritas televisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *