Satelit Mini Setelah Lama Bermimpi bagian 2

Rencananya, LAPAN-Chibasat diluncurkan pada 2020 dan akan dikendalikan di Stasiun Pengendali Utama Satelit Lapan Rancabungur di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Adapun perkiraan modal untuk pembuatan satelit mikro ini US$ 6 juta atau sekitar Rp 79,8 miliar. Biaya ini belum termasuk in tellectual properties dan tenaga kerja. Embel-embel kata mikro disematkan pada LAPAN-Chibasat lantaran satelit ini hanya seberat 150 kilogram.

Inilah satelit dengan bobot paling ringan di dunia yang bisa membawa sensor radar. Selama ini berat satelit seperti itu lebih dari 1 ton dan menggunakan linear polarized SAR. Bertahun-tahun Josh mengembangkan teknologi mutakhir untuk memperkecil ukuran dan berat satelit hingga sepersepuluh kali seperti sekarang. LAPAN-Chibasat akan bekerja layaknya kelelawar dan ikan hiu dalam mencari mangsa.

Antena menembakkan gelombang mikro dengan model circularly polarized atau polarisasi melingkar dengan putaran kanan-kiri dan menerimanya kembali untuk menangkap citra obyek yang ada di hadapannya. Metode ini dapat mengurangi getaran wahana pembawa radar dan efek rotasi Faraday ketimbang pola linier. Efek rotasi Faraday kerap terjadi di lapisan ionosfer, ketika cahaya berinteraksi dengan medan magnetik yang terkandung dalam isolator listrik. Seperti kelelawar, satelit radar ini pun bisa bekerja pada malam hari.

Berbeda dengan satelit citra kamera biasa, LAPANChibasat dapat mengumpulkan informa si tentang intensitas, fase, dan pola obyek. ”Dengan begitu, citra yang ditangkap lebih akurat ketimbang sensor radar konvensional,” ujar Josh. Teknologi CP-SAR dan pengecilan ukuran satelit merupakan temuannya dan telah dipatenkan. Sensor radar CP-SAR bekerja di gelombang 1,270 gigahertz (GHz) atau disebut L band. Panjang gelombang ini 23 sentimeter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *