Satelit Mini Setelah Lama Bermimpi

JOSAPHAT Tetuko Sri Sumantyo, 46 tahun, punya mimpi be sar ketika masih berusia lima ta hun. Mimpinya itu bahkan me lampaui imajinasi anak-anak seusianya. Josh—sapaan akrabnya—suatu hari bertekad membuat satelit radar untuk Indonesia. Ia ingin melihat Indonesia punya satelit sendiri, buatan dalam negeri, dan bukan membeli ataupun menyewa dari negara lain.

Semua berawal ketika ayahnya, Michael Suman Juswaljati, instruktur Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara—kini Komando Pasukan Khas Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara—mengajak Josh kecil ke Pangkalan Udara Adi Soemarmo, Solo. Di sana, ia terpana pada sederet layar radar yang terus berputar untuk menunjukkan keberadaan pesawat di atas langit Solo dan sekitarnya. Josh seolah-olah mendapat mainan baru. Ia terus mengamati layar radar tersebut.

Tapi kekagumannya hilang ketika ia mengetahui bahwa teknologi canggih tersebut bukan buatan orang Indonesia. Sejak itu, angan-angan untuk membuat satelit radar menggelayut di pikirannya. Kesempatan untuk mewujudkan mimpi besarnya itu akhirnya datang pada 2013. Sebagai profesor radar dari Chiba University, Jepang, Josh mendapat kesempatan mengembangkan satelit radar sendiri.

Di bawah Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory, Chiba University, Josh menggandeng Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dalam pengembangan satelit mikro. Kedua lembaga sepakat membuat satelit mikro dengan sensor circularly polarized synthetic aperture radar (CP-SAR). Namanya LAPAN-Chibasat. ”Sungguh luar biasa mimpi saat masa kecil bisa terwujudkan,” ujar pria kelahiran Bandung, 25 Juni 1970, itu kepada Tempo melalui surat elektronik, Senin pekan lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *