Setelah N219 Terbang Tinggi Bag8

RAI menargetkan R80 akan bisa diperlihatkan ke publik pada 2022. Setelah itu, penerbangan perdana dan pengujian untuk memperoleh sertifkat tipe dari Kementerian Perhubungan diharapkan pada 2025. Sertifkat European Aviation Safety Agency juga jadi target agar pesawat ini bisa ditawarkan ke konsumen luar negeri. ”Jika sudah mendapat sertifkat tipe, kami akan mulai produksi serial R80 yang rencananya sebanyak 560 unit. Kapasitas produksi kami sekitar 40 unit per tahun, jadi butuh 15 tahun,” ujar Agung.

Mewaspadai Pertusis Bag3

Observasi ketat, terutama pada bayi, untuk mencegah/mengatasi terjadinya henti napas dan biru atau kekurangan oksigen. ¦ Pemberian terapi antibiotik untuk menghilangkan infeksi, mengurangi angka kesakitan dan mencegah komplikasi (pneumonia, kejang, perdarahan). ¦

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Isolasi pasien, terutama bayi, selama 4 minggu atau 5—7 hari selama pemberian antibiotik hingga selesai. Gejala batuk paroksismal setelah terapi antibiotik tidak berkurang, namun terjadi penurunan transmisi setelah pemberian terapi hari ke-5. ¦ Pasien diperbolehkan pulang bila gejala membaik, pengobatan antibiotik minimal 5—7 hari, dan tidak dijumpai penyulit.

Pertusis (batuk rejan atau batuk 100 hari) merupakan batuk panjang yang berlangsung lama dan menimbulkan bunyi whoop setelah batuk panjang. Tiga cara cegah pertusis, yaitu hindari kontak dengan penderita; perhatikan kebersihan lingkungan; dan berikan imunisasi lengkap.

Cara Hindari Pertusis

Bagaimanapun, mencegah tentu lebih baik daripada mengobati, ya, Ma. Nah, agar si buah hati dapat terhindar dari pertusis, inilah yang perlu dilakukan: ¦ Hindari kontak dengan penderita. ¦ Bayi memerlukan dua atau tiga vaksinasi sebelum terlindungi. Oleh karena itu, penting sekali bayi Mama dijauhi dari orang yang menderita penyakit batuk supaya pertusis atau kuman lain tidak ditularkan: ? Sampai hari ke-5 pemberian antibiotik yang efektif. ?

Sampai minggu ke-3 setelah timbul batuk paroksismal, apabila tidak diberikan antibiotik. ¦ Perhatikan kebersihan lingkungan, termasuk sirkulasi udara. Sebaiknya rumah memiliki cukup ventilasi alamiah, yaitu jendela dan lubang angin, agar pertukaran udara bisa terjadi secara alamiah. Buka jendela lebar-lebar agar sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah dan membunuh kuman-kuman penyakit. ¦

Berikan imunisasi. Sudah selayaknya kita menjadikan imunisasi sebagai salah satu dari hak anak yang harus diberikan. Dengan imunisasi, anak dapat terhindar dari kesakitan, kecacatan, bahkan kematian yang disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi, seperti hepatitis B, TBC, polio, difteria, pertusis, tetanus, campak, pneumonia, dan meningitis. Khusus pertusis dapat dicegah dengan pemberian vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus), jadi sekaligus untuk pencegahan difteri dan tetanus. (Lihat boks “Vaksin DPT”).

Sumber : https://eduvita.org/

Satu Ismail, Lima Disertasi Bag8

Ia menolak dituduh meloloskan disertasi yang berisi plagiat. Ia mengaku hanya memeriksa substansi ilmiah, tak memeriksa secara detail kalimat tiap disertasi, apalagi menggunakan Turnitin. Djaali mengaku tidak paham teknologi. ”Saya juga tak sempat membandingkan disertasi mereka,” ujarnya. Nasir Andi Baso juga membantah telah melakukan plagiat.

”Saya kuliah untuk mencari ilmu, bukan sektitel karena sebentar lagi pensiun,” ucapnya saat ditemui di Kendari pada awal September lalu. Sarifuddin Safaa belum bisa dimintai konfrmasi karena sedang menjalankan ibadah haji. Sedangkan Nur Endang tak kunjung merespons permintaan wawancara Tempo. Hado Hasina ikut membantah melakukan plagiat.

Hindari Baby Walker !

Sudah sejak lama penggunaan baby walker tidak direkomendasikan di banyak negara. Pasalnya, anak yang menggunakan baby walker dapat dengan mudah menjangkau tempat-tempat berbahaya, seperti: meja dapur tempat kompor berada; meja berisi peralatan rumah tangga yang tajam, semisal gunting, dsb. Banyak pula kasus kecelakaan–bahkan, beberapa kasus berujung pada kematian– terjadi karena penggunaan baby walker. Salah satunya dialami oleh Tamina (2,8).

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

“Alat ini kurang aman buat dia. Tenaga Tamina cukup kuat, sehingga kadang terlalu bersemangat ketika belajar jalan. Padahal, baby walker, kan ringan dan mudah untuk dijalankan. Begitu didorong, malah baby walker-nya terbawa dan Tamina jadi jatuh tersungkur,” curhat Selly, sang mama. Aneka Dampak Buruk Tak hanya itu, Ma. Penggunaan baby walker juga berdampak buruk pada anak. Yuk, kita lihat dampaknya satu per satu! ¦ Saat menggunakan baby walker, anak tidak dapat melihat kaki nya, sehingga tidak bisa mempelajari teknik keseimbangan tubuh. ¦

Ketika memakai baby walker, anak terbiasa berdiri dengan ujung jari kaki. Ini bisa mengakibatkan otat yang tegang dan membuat anak jadi berjalan pada ujung jari kaki alias jinjit. ¦ Mengurangi keinginan anak untuk bisa berjalan sendiri karena ia sudah mendapatkan cara lebih mudah untuk berpindah posisi, yaitu dengan media baby walker. ¦ Aktivitas motorik yang terjadi saat anak menggunakan baby walker hanya melibatkan beberapa serabut otot, terutama otot betis.

Sebabnya, anak selalu dalam posisi duduk di dalam baby walker sehingga hanya terlatih menggunakan otot di sekitar betis. Akibatnya, anak malas berdiri sewaktu tidak menggunakan baby walker. Padahal, untuk bisa berjalan dengan lancar dan benar dibutuhkan keseimbangan kekuatan otot penyanggah tubuh, terutama otot pinggul dan otot-otot tungkai atas. +asil Riset Seputar Bahaya Baby :alker Penggunaan baby walker dikenal sejak akhir abad ke-17, dalam dua dekade terakhir terdapat peningkatan kecelakaan akibat baby walker. ¦

Sumber : https://ausbildung.co.id/