Mewaspadai Pertusis Bag3

Observasi ketat, terutama pada bayi, untuk mencegah/mengatasi terjadinya henti napas dan biru atau kekurangan oksigen. ¦ Pemberian terapi antibiotik untuk menghilangkan infeksi, mengurangi angka kesakitan dan mencegah komplikasi (pneumonia, kejang, perdarahan). ¦

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Isolasi pasien, terutama bayi, selama 4 minggu atau 5—7 hari selama pemberian antibiotik hingga selesai. Gejala batuk paroksismal setelah terapi antibiotik tidak berkurang, namun terjadi penurunan transmisi setelah pemberian terapi hari ke-5. ¦ Pasien diperbolehkan pulang bila gejala membaik, pengobatan antibiotik minimal 5—7 hari, dan tidak dijumpai penyulit.

Pertusis (batuk rejan atau batuk 100 hari) merupakan batuk panjang yang berlangsung lama dan menimbulkan bunyi whoop setelah batuk panjang. Tiga cara cegah pertusis, yaitu hindari kontak dengan penderita; perhatikan kebersihan lingkungan; dan berikan imunisasi lengkap.

Cara Hindari Pertusis

Bagaimanapun, mencegah tentu lebih baik daripada mengobati, ya, Ma. Nah, agar si buah hati dapat terhindar dari pertusis, inilah yang perlu dilakukan: ¦ Hindari kontak dengan penderita. ¦ Bayi memerlukan dua atau tiga vaksinasi sebelum terlindungi. Oleh karena itu, penting sekali bayi Mama dijauhi dari orang yang menderita penyakit batuk supaya pertusis atau kuman lain tidak ditularkan: ? Sampai hari ke-5 pemberian antibiotik yang efektif. ?

Sampai minggu ke-3 setelah timbul batuk paroksismal, apabila tidak diberikan antibiotik. ¦ Perhatikan kebersihan lingkungan, termasuk sirkulasi udara. Sebaiknya rumah memiliki cukup ventilasi alamiah, yaitu jendela dan lubang angin, agar pertukaran udara bisa terjadi secara alamiah. Buka jendela lebar-lebar agar sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah dan membunuh kuman-kuman penyakit. ¦

Berikan imunisasi. Sudah selayaknya kita menjadikan imunisasi sebagai salah satu dari hak anak yang harus diberikan. Dengan imunisasi, anak dapat terhindar dari kesakitan, kecacatan, bahkan kematian yang disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi, seperti hepatitis B, TBC, polio, difteria, pertusis, tetanus, campak, pneumonia, dan meningitis. Khusus pertusis dapat dicegah dengan pemberian vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus), jadi sekaligus untuk pencegahan difteri dan tetanus. (Lihat boks “Vaksin DPT”).

Sumber : https://eduvita.org/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *